Permasalahan pengangguran di kabupaten Halmahera Timur, terutama di kalangan kelompok usia rentan, masih menjadi tantangan besar di wilayah sekitar area operasi PT. Sumberdaya Arindo. Banyak masyarakat usia produktif belum terserap dalam sektor formal, sehingga membutuhkan alternatif mata pencaharian yang layak, berkelanjutan, dan sesuai dengan potensi lokal. Hal ini berdampak pada kebutuhan pangan masyarakat di sekitar wilayah Halmahera Timur. Berdasarkan data BPS 2023, Prevalensi Ketidakcukupan Konsumsi Pangan di Halmahera Timur mencapai 32,27%.
Di sisi lain, PT. Sumberdaya Arindo memiliki kebutuhan konsumsi harian yang tinggi, khususnya melalui layanan katering bagi karyawan. Salah satu bahan pangan utama yang dibutuhkan adalah ikan air tawar. Sayangnya, pasokan ikan selama ini masih banyak didatangkan dari luar daerah, meski desa-desa di sekitar tambang memiliki potensi pengembangan perikanan hal ini menunjukkan bahwa potensi lokal belum dimanfaatkan secara maksimal.
Program Silolowa (Sinergy Local with Aquaagriculture) hadir sebagai bentuk sinergi antara kebutuhan perusahaan, potensi desa, dan keinginan masyarakat untuk mandiri secara ekonomi. Dengan memberdayakan masyarakat melalui budidaya ikan air tawar, program ini membuka ruang baru untuk peningkatan kesejahteraan berbasis sumber daya lokal. Melalui program ini PT. Sumberdaya Arindo ingin memberdayakan kelompok rentan seperti ibu rumah tangga dan lansia yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan.
Terdapat beberapa desa yang memiliki lahan untuk bisa dimanfaakan sebagai tempat replikasi budidaya ikan air tawar, diantaranya:
· Desa Wayafli: memiliki kolam lama yang siap direvitalisasi.
· Desa Buli Asal: memiliki lahan desa yang belum dimanfaatkan.
· Desa Soalaipoh: memanfaatkan kolam masyarakat yang sudah ada.
Pengembangan pada desa-desa sekitar ini ini tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan PT. Sumberdaya Arindo, tetapi juga membuka pasar lebih luas melalui potensi konsumsi perusahaan lain di lingkar tambang.
Hasil implementasi awal program Silolowa menunjukkan bahwa budidaya ikan air tawar adalah peluang usaha yang layak dan berkelanjutan:
· Produktivitas panen mencapai 72%, dengan 448 ekor ikan (total 64 kg) berhasil dipanen.
· Tingkat kematian ikan hanya 10,4%, mencerminkan pengelolaan yang efektif.
· Pendapatan bersih masyarakat sebesar Rp 1.050.000 dalam satu siklus panen.
Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat desa mampu mengelola usaha perikanan dengan produktif jika didukung dengan pelatihan, pendampingan, dan sarana yang memadai.
Adapun dampak dari diterapkannya program Silolowa ini yaitu:
· Diversifikasi Mata Pencaharian
Program ini membuka peluang usaha baru bagi masyarakat yang sebelumnya hanya mengandalkan pertanian atau pekerjaan serabutan. Dengan adanya budidaya ikan, masyarakat memiliki alternatif penghasilan tambahan yang stabil dan terukur.
· Pemberdayaan Kelompok Rentan (Perempuan dan Lansia)
Budidaya ikan tidak membutuhkan tenaga fisik berat, sehingga memungkinkan perempuan dan lansia ikut terlibat secara aktif. Ini bukan hanya menciptakan penghasilan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan partisipasi mereka dalam ekonomi desa.
· Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Lokal
Ikan hasil budidaya menjadi sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat desa, sehingga mendukung ketahanan pangan. Selain itu, aktivitas ekonomi di sekitar sektor perikanan seperti penjualan pakan, logistik, hingga olahan ikan turut tumbuh, memperkuat sirkulasi ekonomi lokal.
Silolowa bukan sekadar program budidaya ikan air tawar. Ia adalah simbol sinergi antara perusahaan dan masyarakat dalam menciptakan perubahan ekonomi yang nyata. Keberhasilan awal di Silolowa menjadi titik tolak replikasi ke desa-desa lain, seperti Wayafli, Buli Asal, dan Soalaipoh. Melalui pendekatan partisipatif dan berkelanjutan, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang inklusif, tangguh, dan berdampak luas bagi masyarakat sekitar tambang.
